11 May, 2008

PENDIDIKAN LUAR NEGERI

Mungkin standart sekolah di Indonesia masih di bawah rata-rata. HAsil dari pendidikan/ lulusannya masih belum bisa dikatakan siap bekerja. tidak tahu kenapa... banyak lulusan sekolah khususnya sekolah luar negeri/ eh swasta sangat bisa dipastikan menganggur. Apa benar nich...!? tanya saja kepada semua yang baru lulus kuliah 2 tahun berikutnya... banyak dari mereka nganggur kalaupun kerja pasti tidak sesuai bidangnya, jadi sales....
Emang jadi sales jelek... siapa bilang kapan kapan saya akan jelaskan bagaimana sales ini... sekarang kita membahas pendidikan kita dulu.
Dikarenakan hal tersebut diataslah banyak sekali mereka orang yang orang tuanya berpenghasilan menengah keatas lebih suka menyekolahkan putra putri nya ke luar negeri. Kenapa ? Pendidikan luar negeri lebih terjamin baik dalam hal kualitas, pelayanan dan hasil lulusan mereka. Terus bagaimana donk mengatasi hal ini.... lihat saja anak bangsa kita yang boleh dibilang selalu menang dalam contest olimpiade pelajaran dunia.. tapi bagaimana perkembangan mereka... hahahah kelaihatannya nggak begitu diperhatikan deh.... malahan mereka langsung mendapatkan penawaran sekolah yang lebih keren diluar negeri dan bebas biaya lagi. dan ketika mereka lulus jarang yang mau pulang ke Indonesia...

lha kok ada apa lagi... ya tentu donk... bidang mereka tidak tersedia di lapangan kerja di Indonesia dan gajinyapun minim sekali.. paling tinggi ya jadi pegawai bank atau pegawai negeri. Lihat saja di luar negeri.. langsung diberi fasilitas laboratorium.. gaji yang wow, dan fasilitas lainnya.

03 May, 2008

PENDIDIKAN NASIONAL

Tanggal 2 mei memang sudah dierapkan oleh pemerintah sebagai hari pendidikan nasional. entah mengapa tanggal ini hanya terlihat sekedar peringatan saja. lihat saja disekolah-sekolah... mereka lebih sibuk memikirkan UASBN.

Ada lagi cerita terbaru ... di Surabaya banyak yang tidak mengikuti UASBN untuk SMA / SMK yang jumlahnya kira-kira 150.... dan yang mengejutkan kenapa mereka tidak ikut alasannya mereka hamil... (busyet dah).... lebih baik mereka melahirkan anaknya dan nanti ikut paket C. Ketika ditanya apakah laki-lakinya bertaggung jawab mereka menjawab untuk sementara ini tidak nikah.. anak lahir akan dititipkan kakak dan meerka berjalan sendiri sendiri. DUNIA SUDAH GILAAA..... Inilah pengaruh dari sinetron-sinetron di Indonesia yang menantangkan bahwa hamil di luar nikah itu kelihatannya biasa saja...!?! bahkan kita wajib membela mereka... sungguh ini adalah budaya barat... Tidak heran negara ini penuh bencana.

Lihat saja film Azizah yang hamil di luar nikah... tapi diperlihatkan seolah-olah mereka benar dikarenakan khilaf... apa jadinya dunia ini...
NAMAnya hamil diluar nikah ya HARAM... anak yang dikandung sich suci, tapi orang tua mereka harus dihukum... dan setelah lahir harus dinikahkan lagi.. pintu rejeki akan ditutup bahkan akan menyebar ke sekitarnya. Nggak percaya lihat saja yang terjadi sekarang. BAgaimana pendapat teman-teman

27 April, 2008

Mengajar = nilai UASBN ?

Apakah relevan dianggap bahwa mengajar baik akan menghasilkan UASBN baik..? Sulit, seharusnya memang tidak bisa dianggap seperti itu.. tapi yang dipikirkan orang tua siswa... ketika anak mereka mendapatkan nilai jelek sedangkan butuh nilai baik untuk bisa masuk negeri ? atau mungkin malah tidak lulus.
Mendidik masyarakat untuk menerima keadaan yang sebenarnya masih sulit tapi sekarang ini harus dimulai. Kearin dan hai ini termuat berita Guru dan kepala sekolah bekerja sama mengganti jawaban para siswa.. mental apakah yang dimiliki para guru kita ini ?!? MAri donk kita bangun pendidikan di negeri ini dengan baik dan eratur sesuai aturan yang berlaku.

15 April, 2008

Bahan Renungan Orang tua

Cerita dari orang tua di sebuah kota di Indonesia....

Tahun yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor.
Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu
itu Saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah.
Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang
Duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi
itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru
menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu
murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya
untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan
kepada Dika "Apa yang kamu inginkan ?" Dika hanya menggeleng.

"Kamu ingin ibu bersikap
seperti apa ?" tanya saya

"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah
untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan.
Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah
untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan
soal demi soal dalam hitungan menit.

Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh
keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan
rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk
aspek-aspek kemapuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti,
penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160.
Ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak
lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok
pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah
Yang menurut Psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh
sebab Itu Psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar
Dika kembali Ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu
menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti
serangkaian test kepribadian.
Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya
Psikolog Itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah
satu atau beberapa factor penghambat kemampuan verbal Dika.
Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang
jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri,
melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...."
Dikapun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja" Dengan beberapa
pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama
ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas.
Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan
edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya
menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain
basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game
di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya,
Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela
waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar
telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar
sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang
begitu rumit.
Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana :
diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa
kanak-kanaknya.

Ketika Psikolog menyodorkan kertas
bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..."
Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira
artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku
melakukan sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap
bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk
melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa
saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika
ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya
sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV
secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur
tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru
sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..."
Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal
saya merasa bahwa pengalaman hidup saya
yang suka bekerja
keras,disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya
inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana.
Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya.
Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak
sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah
orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .."
Dikapun menjawab "Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain.
Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah
dosa" Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu
bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat
kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa
setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka
anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui
kesalahan
yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena
orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga
tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau
menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi
kesempatan Untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari
kesalahannya.
Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa
menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak
membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang
....." Dikapun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting
saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan
kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk
membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan
pelajaran dan PR yang diberikan gurunya.
Namun ternyata
hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu
yang penting untuk anak saya.

Dengan jawabab Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa
kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan
Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan.

Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....",
Dikapun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang
kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar,
paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku
mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku". Memang dalam banyak
hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak
luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu
ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu
meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua
kepadanya.

Ketika Psikolog
menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap
hari........ " Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya
dengan lancar " Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat
seperti ia mencium dan memeluk adikku" Memang adakalanya saya
berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi
dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan
hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya
hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa
perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali
oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau
pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap
hari....."
Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu
kata
"tersenyum" Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa
perlu menahan senyumannya demi mempertahankan
wibawanya. Padahal
kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan
melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi
bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat
dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku. ..." Dikapun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku
dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali ! Memang sebelum ia
lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu
Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu
memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa
diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari
kata "Tole". Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar
wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan
masyarakat Jawa.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku
memanggilku .."Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli".
Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo"
karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa
Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling"
kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu
karena selama ini saya bekerja disebuah lembaga yang membela dan
memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan
pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak
Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan
"To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise" sebuah
seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah
Kewajiban, bukan Pilihan". Tanpa saya sadari, saya telah melanggar
hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak
hormat dan
bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah
polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga
kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan.

Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun
anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus
diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang
tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya.
Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat Tuhan.

Untuk menyambut Peringatan Hari Anak Nasional Tanggal 23 Juli 2008,
Saya ingin mengingatkan kembali kepada para orang tua supaya selalu
berpikir,bersikap dan melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan.

Sumber: Ditulis oleh Lesminingtyas

05 April, 2008

Guru mulai resah

belakangan ini muncul berita bahwa semua fasilitas yang diberikan untuk para guru baik incentive, fungsional, akan dicabt apabila pemerintahan berganti pimpinan.... itulah opini dari para pendidik yang seengah gelisah, bagaimana tidak... gaji guru bantu selama 3 bulan belum terbayar.... tidak ada pemberitahuan ataupun surat dari pemerintah... walau sudah dijawab bahwa mungki masih ada proses dikarenakan banyak guru bantu yang diangkat PNS sehingga unuk mengurangi kesalahan pengiriman uang maka di data ulang.

22 March, 2008

Indonesia blokir situs tidak baik

Setelah lama saya sangat tidak setuju dengan bebasnya situs tidak baik diakses oleh siswa saya dan semua anak sekolah akhinya Pemerintah mulai bulan april akan memulai memblokir situr lendir. Senang sekali rasanya... bagi para pendidik ini sangatlah membantu, selain meningkatkan moral para sisiwa memang harus ada tindakan yang nyata dari pemerintah.
Pernah saya membahas masalah ini, bahkan warnet milik saya pun tertulis DILARANG MEMBUKA SITUS tidak baik, dan juga tidak memekai bilik sehingga apapun yang dilakukan user lebih terkendali... apabila ketahuan membuka maka akan diperingatkan... tapi kalo diulangi ya terpaksa kita usir.... Internet untuk kemajuan bangsa bukan menghancurkan bangsa.
Perlu diketahui tahun 2007 situs bokep ini menempai urutan 1-9 dari situs yang paling banyak dikunjungi.
Maka ketika melihat pengumuman di telivisi dan media cetak oleh menkominfo bahwa akan situs bokep akan diblokir, saya setuju sekali !?!?!!!!

SAY NO TO OPEN PORN SITE !!!!

BAgaimana pendapat anda ?

07 March, 2008

Pendidikan Komputer pada Anak

Semua lini kehidupan sudah dihinggapi teknologi satu ini. Komputer.... sebuah kenyataan yang harus dihadapi di Era Globalisasi.Bagaimana dengan anak-anak kita ?
Memang seharusnya kitalah yang membimbing mereka ... jangan semua pendidikan hanya diserahkan pada guru. Pembentukan moral harus pula dimulai sejak dini. Ketika anak kita mulai belajar menunjukkan kreativitas mereka dengan komputer, maka kita juga harus selalu membimbing. Ingat sekarang ini semua lini kehidupan sudah dikuasai oleh komputer, sehingga kita jadi tergantung sama mereka.

23 February, 2008

Games tidak senonoh Rambah Siswa ..!?

ah... di indonesia mulai masuk games tidak senonoh yang sangat merusak mental kaum muda indonesia (kaum pelajar). dengan bebas para pengedar menyebarkan bahkan menyewakannya.. sungguh sangat keterlaluan.Saat baca koran hari ini rasanya kayak ditusuk tusuk dech jiwa ini..... apa sich dibenak mereka para pencipta dan pengedar games porno. Bahkan adegan- adegan yang tidak sepatutnya dilihat oleh anak Sekolah DAsar pun sudah beredar ke HP mereka.... YA ALLAH apa yang terjadi.... bencana dimana mana... tak ada tempat bersembunyi... marilah sadar.. mari kita nulai dari diri kita lalu lingkungan sekitar kita. Jujur saja ketika beredar bilik warnet untuk kegiatan yang tidak sepantasnya (karena tertutup.. dan tidak diketahui oleh penjaga), pemilik warnet menganggap itu biasa... bahkan terlihat seperti halal saja..... SAYA paling tidak setuju dengan WARNET dengan BILIK tertutup.... mereka bisa mendownload apa saja, melihat apa saja .. tanpa kontrol moral sangat mustahil bisa dihentikan .....................

AYO KITA BERSAMA BERNIAT
MEWUJUDKAN PENINGKATAN MORAL DAN IMAN ANAK DIDIK KITA

19 February, 2008

Lulus Sarjana ... Nganggur..?!!!

Banyak lulusan sarjana di Indonesia yang hanya menggantungkan pada pmerintah. komentar dari wakil rakyat kita di senayan sono.... depdiknas salah dalam menerapkan sistem yang ada sehingga gagal melahirkan lulusan yang mandiri dan siap bersaing. 75% lulusan sarjana pasti masuk PNS sedangkan 25% yang bekerja mandiri. Tapi kalau dilihat secara sekilas sih malah banyak yang nganggur .... Lihat saja jurusan manjemen yang meluluskan banyak lulusan tapi sulit sekali diserap pasar, dan merekapun hanya mengandalkan lamaran ke perusahaan-perusahaan. mungkin hanya 1 % yang bisa bekerja mandiri (atau bahkan kurang ya?).
Kenapa bisa begitu ? Dulu ketika saya kuliah dan menanyakan mengapa tidak ada pelatihan yang efektif pada mahasiswa.. para dosen, dekan, rektor menjawab " ya kalau mau usaha mandiri mas salah milih jurusan ..!?!? PAnas telinga saya, padahal waktu itu adalah acara penjelasan yudisium dan perpisahan fakultas yang mengundang nara sumber dari luar yang memiliki usaha/ perusahaan besar di Surabaya.
Inilah sebnarnya yang terjadi, Mahasiswa hanya disuruh mengikuti pelajaran sampai tuntas.. lulus , bisa cari pekerjaan. Sekarang ijasah mereka mungkin tak bisa dipakai bila melamar ke perusahaan, karena mereka ingin pokoknya kerja, jadi SMA saja sudah cukup.

Apa yang perlu dibenahi....! Mari bersama mulai dari diri kita sendiri untuk terus memotivasi lulusan baru untuk bisa membuka usaha baru. DPR ? bisanya hanya mencaci... Tunjukkan donk kepedulianmu dengan menaikkan anggaran pendidikan ... Kalau seperti ini terus.. 10 tahun lagi pasti ada generasi yang ber SDM paling terendah di Asia bahkan dunia.

11 February, 2008

DOSEN DISERTIFIKASI

Rencananya program sertifikasi untuk dosen dimulai tahu ini. Seluruh indonesia total yang akan disertikasi kurang lebih 12.000 , tetapi untuk para dosen yang bergelar guru besar sebanyak 3.000 akan mendapatkan hak sertifikasi lebih awal baru berikutnya yang lainnya. Kualifikasi wajib Dosen yang ikut sertifikasi adalah mereka yang sudah S2 / S3 dan juga telah mengajar minimal 2 tahun.

Senang ya Pak dan Bu Dosen... semoga lebih fokus mengajarnya. Untuk dosen yang akan dipilih berdasarkan kebijakan Kopertis masing- masing (tidak membedakan swata ataupun Negeri)