Seperti biasa kali ini blog pendidikan bangsa mau sedikit memberi gambaran yang terjadi di masyarakat masalah Parkir Berlangganan. Mungkin hanya Sidoarjo yang menjalankan Parkir Berlangganan dimana pada saat membayar Pajak kendaraan bermotor langsung dimasukkan biaya parkir berlangganan.
Inilah yang terjadi, kemarin malam saya bawa kendaraan dan telah berlogo parkir berlangganan, ketika mengambil kendaraan secara otomatis para juru parkir meminta bayaran dengan mendekat di kaca sopir... padahal sudah ada stiker... ok saya bayar saja.. katanya jangan dikasih ketika saya kasih 1000 rupiah juru parkir bilang... kok cuman seribu ....
Pengalaman berikutnya adalah di Pasar Larangan Sidoarjo, saya bersama keluarga naik sepeda motor parkir di tengah dan disitu juga ada plakat Parkir Berlangganan (berwana dasar biru dengan tulisan putih). Juru parkir yang memakai seragam dishub langsung menarik uang parkir...?!? Rp 1.000,- Pasti teman-2 juga berpikir walah seribu ae... tapi dalam 1 minggu berpa kali ?... kalau mau sedekah ya langsung saja ke yang mebutuhkan...
Bagaimana nich pelayanan parkir Sidoarjo, apa mau semua dibuktikan lewat foto dan video...? baru nanti ramai... terus 1-2 hari juru parkir tertib berikutnya kembali lagi... harusnya di baju juru parkir juga ditulisi yang parkir berlangganan gratis... kami sih support aja parkir berlangganan ditarik karena lebih terlihat pemasukkan ke APBD, cuman kalau diatur lebih baik lagi... akan ok kan....
16 September, 2012
02 September, 2012
PDAM SIDOARJO SERING MACET
Sudah beberapa hari ini air PDAM di Sidoarjo (Air Umbulan) keluarnya pelan dan kalau siang tidak ada yang keluar. Di hari puasapun juga begitu... air biasa mengalir dengan deras ini seluruh sekarang terlihat kurang sekali. KAlau dulu mungkin pipa pecah didaerah porong dan perbaikan maksimal memakan waktu 1 minggu, kadang 3 hari kelar.
Ketika pembayaran PDAM bulan Agustus dibayar... yang keluar tagihan 3 kali lipat dari biasanya. kalau dilihat 6 bulan sebelumnya bayar PDAM hanya 180-250 ribu tapi tagihan kali ini 625 ribu. Bagaimana nggak kaget bin mangkel dan kuesel. lha wong air tidak keluar kok bayarnya malah tiga kali lipat. Ketika dikomplain PDAM malah menyarankan ganti meteran... anehnya kejadian ini tidak terjadi di tempat saya saja tapi di tetangga saya juga... minimal naik 50% dari pembayaran (meteranpun juga naik 50%) biasanya.
Hal inilah yang membuat banyak pengaduan beberapa hari ini di PDAM Sidoarjo, katanya meteranlah... pipanya ada yg bocor kali... walah nggak mau ngecek dulu.... Saya buktikan sendiri setelah meteran air PDAM sidoarjo ini diganti kemarin. Kran saya buka dan tidak keluar air... tapi putaran meteran PDAM masih berputar terus... wow... bagaimana nggak tambah banyak meterannya lha wong seperti ini yang terjadi... jadi bukan air yang keluar tapi angin....
Berdasarkan penglihatan langsung dilapangan... kelihatannya ini juga terjadi di tempat lain... harusnya PDAM langsung tanggap ... apa yang terjadi apakah ada yang berbuat curang ? Pelayanan Publik harusnya menanggapi keluhan pelanggan, ingin sekali rasanya protes dan demo ke PDAM beserta orang yang sama seperti saya... apa maunya begitu ya mereka. Di daerah tanggulangin ternyata pipanya ada yang bermasalah dan tidak segera dibetulkan. Kami sudah lebih dari 1 minggu harus menunggu air berjalan pelan... dan membayar dengan mahal... PDAM sidoarjo kembalikan uang kami... layani kami dengan baik dan benar.....!!!!!
Ketika pembayaran PDAM bulan Agustus dibayar... yang keluar tagihan 3 kali lipat dari biasanya. kalau dilihat 6 bulan sebelumnya bayar PDAM hanya 180-250 ribu tapi tagihan kali ini 625 ribu. Bagaimana nggak kaget bin mangkel dan kuesel. lha wong air tidak keluar kok bayarnya malah tiga kali lipat. Ketika dikomplain PDAM malah menyarankan ganti meteran... anehnya kejadian ini tidak terjadi di tempat saya saja tapi di tetangga saya juga... minimal naik 50% dari pembayaran (meteranpun juga naik 50%) biasanya.
Hal inilah yang membuat banyak pengaduan beberapa hari ini di PDAM Sidoarjo, katanya meteranlah... pipanya ada yg bocor kali... walah nggak mau ngecek dulu.... Saya buktikan sendiri setelah meteran air PDAM sidoarjo ini diganti kemarin. Kran saya buka dan tidak keluar air... tapi putaran meteran PDAM masih berputar terus... wow... bagaimana nggak tambah banyak meterannya lha wong seperti ini yang terjadi... jadi bukan air yang keluar tapi angin....
Berdasarkan penglihatan langsung dilapangan... kelihatannya ini juga terjadi di tempat lain... harusnya PDAM langsung tanggap ... apa yang terjadi apakah ada yang berbuat curang ? Pelayanan Publik harusnya menanggapi keluhan pelanggan, ingin sekali rasanya protes dan demo ke PDAM beserta orang yang sama seperti saya... apa maunya begitu ya mereka. Di daerah tanggulangin ternyata pipanya ada yang bermasalah dan tidak segera dibetulkan. Kami sudah lebih dari 1 minggu harus menunggu air berjalan pelan... dan membayar dengan mahal... PDAM sidoarjo kembalikan uang kami... layani kami dengan baik dan benar.....!!!!!
12 August, 2012
DANA PENDIDIKAN 2013 NAIK
Seperti biasa dana pendidikan yaitu 20% APBN akan kembali digelontorkan di tahun 2013. Pagu indikatif Dana Alokasi Umum (DAU) pendidikan tahun 2013 sekitar Rp 125 triliun. Saat ini, dana tersebut masih dalam pembahasan bersama DPR.
"Penetapan DAU itu didasari oleh Undang-Undang Perimbangan Keuangan Daerah," kata Nuh, dalam kegiatan Safari Ramadhan, di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/8/2012).
Nuh menjelaskan, alokasi DAU sebesar itu akan digunakan untuk operasional pendidikan di daerah. Misalnya seperti pembayaran gaji guru PNS yang diangkat oleh daerah, dan pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Ia menambahkan, alokasi DAU menjadi sangat besar karena pemerintah ingin memastikan semua gaji guru berikut TPG telah ditanggung oleh pemerintah pusat. "Itulah kenapa jumlahnya besar, karena memang kebutuhan yang paling besar," jelasnya.
"Penetapan DAU itu didasari oleh Undang-Undang Perimbangan Keuangan Daerah," kata Nuh, dalam kegiatan Safari Ramadhan, di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (11/8/2012).
Nuh menjelaskan, alokasi DAU sebesar itu akan digunakan untuk operasional pendidikan di daerah. Misalnya seperti pembayaran gaji guru PNS yang diangkat oleh daerah, dan pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG). Ia menambahkan, alokasi DAU menjadi sangat besar karena pemerintah ingin memastikan semua gaji guru berikut TPG telah ditanggung oleh pemerintah pusat. "Itulah kenapa jumlahnya besar, karena memang kebutuhan yang paling besar," jelasnya.
29 July, 2012
LATIHAN SOAL-SOAL UKG
Program Uji kompetensi guru / UKG yang dilakukan pemerintah guru di Indonesia sangat bermanfaat lho, selain hasil akhirnya nati semua guru bisa komputer (karena mengerjakannya online dan harus memakai komputer)... sekarang berbondong guru belajar komputer... jadi komputer harus bisa... hukumnya wajib bagi para guru.
Nah karena banyak yang mencari soal latihan UKG di Internet maka tak ada salahnya saya juga memberikan contoh-contoh soal + cara mengerjakan secara online dari Internet. Silahkan langsung klik disini atau langsung ke alamat blog ini : http://akta4.blogspot.com/2012/07/latihan-soal-ukg.html
Lihat dibagian bawah halaman blog tersebut ... disitu ada latihan soal-soal UKG menggunakan flash player seperti online... silahkan membaca samapi lengkap ya...
Nah karena banyak yang mencari soal latihan UKG di Internet maka tak ada salahnya saya juga memberikan contoh-contoh soal + cara mengerjakan secara online dari Internet. Silahkan langsung klik disini atau langsung ke alamat blog ini : http://akta4.blogspot.com/2012/07/latihan-soal-ukg.html
Lihat dibagian bawah halaman blog tersebut ... disitu ada latihan soal-soal UKG menggunakan flash player seperti online... silahkan membaca samapi lengkap ya...
09 July, 2012
DANA PENDIDIKAN YANG BANYAK UNTUK GURU
Inilah kenyataan yang terjadi, Anggaran pendidikan sebesar 2abis u0% dari APBN sebanyak 70% untuk menggaji guru, sedangkan sisanya untuk membangun pendidikan bangsa ini. Sungguh hal yang membingungkan dimana seharusnnya ketika Pemerintah ini membayar PNS ya seharusnya tidak dimasukkan ke perhitungan anggaran pendidikan, tapi mau bagaimana lagi, negara ini perangkatnya masih belum siap.
Dunia pendidikan memang harus dinomorsatukan, tapi bukan hanya kesejahteraan para gurunya (yang kadang membuat iri PNS lainnya dikarenakan mendapat tunjangan Profesi dan mereka bekerja sama saja...) tapi juga yang lainnya. Belakang ini pembangunan sekolah-sekolah agar lebih baik dan tidak gampang roboh menjadi nominasi setiap Anggaran Pendapatan daerah.
Kalau admin pikir memang benar... tapi selayaknya 2 tahum ke depan karena biaya pembangunan ruang pendidikan sudah nggak ada (kan sudah dibangun) lebih baik diarahkan ke Pembelian Bis Sekolah. Maklum selama ini admin melihat dijalan semakin buaanyyaak sepeda motor... apalagi di pagi hari. Kalau ada bis sekolah gratis + bis nya bagus dan siswa yang seperjalanan diharuskan naik bis juga maka secara nggak langsung akan mengurangi pengendara khususnya dipagi hari + hemat konsumsi BBM. Negara harus memperhatikan ini. Ditambah kesadaran para guru untuk meningkatkan kualitas sebagai seorang pendidik yang benar-benar profesional.
26 June, 2012
Libur Telah Tiba
Hebat ... akhirnya bisa menikmati liburan kenaikan kelas tahun ini, walau pebuh dengan hambatan.. terjang saja deh... Ingin sekali melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi... tapi juga ingin buka usah dulu. Pendidik kalau hanya full mengajar kelihatnnya ilmu lapangannya kurang, so coba-coba bisnis untk mencari penghasilan kedua.
Siapa tahu saja bisnis ini bisa berkembang dan menjadi penghasilan utama, jadi pengalaman bisa dibagi... rejekinya juga bisa berbagi lebih banyak. inginya sih begitu tapi untuk melangkah sangat berat.. terlalu banyak pemikiran. SO tetap mengajar adalah inti dari keinginan kata hati... meningkatkan taraf hdup adalah kebutuhan.. Selamat liburan deh bagi semua..
Nah dari pada membahas usaha apa dan bisnis apa... kan sekarang liburan sebaiknya kita kemana ya..? Ok cari saja yang sesuai kebutuhan.. dan lihat uang disaku ... Kalau ingin enak ya pastilah biaya mahal seperti ke Pantai Bali... peerjalanan penginapan cari dulu deh sebelum berangkat biar dapat harga lebih murah.
Siapa tahu saja bisnis ini bisa berkembang dan menjadi penghasilan utama, jadi pengalaman bisa dibagi... rejekinya juga bisa berbagi lebih banyak. inginya sih begitu tapi untuk melangkah sangat berat.. terlalu banyak pemikiran. SO tetap mengajar adalah inti dari keinginan kata hati... meningkatkan taraf hdup adalah kebutuhan.. Selamat liburan deh bagi semua..
Nah dari pada membahas usaha apa dan bisnis apa... kan sekarang liburan sebaiknya kita kemana ya..? Ok cari saja yang sesuai kebutuhan.. dan lihat uang disaku ... Kalau ingin enak ya pastilah biaya mahal seperti ke Pantai Bali... peerjalanan penginapan cari dulu deh sebelum berangkat biar dapat harga lebih murah.
11 June, 2012
MENGEMBANGKAN RPP
Mungkin beberapa teman banyak sekali yang masih bingung membuat RPP bahkan kebanyakan masih copy paste dan sedikit mengganti disana-sini. Padahal RPP merupakan awal kita membuat sebuah pelajaran agar berjalan dengan baik dan sesuai rencana. nah berikut alamat blog yang membahas tentang PANDUAN PENGEMBANGAN PEMBUATAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN, silahkan klik disini dan baca, barangkali bisa membantu pendidik / guru untuk membuat RPP yang benar-benar baru dan lebih inovatif.
Bangsa ini masih sangat banyak membutuhkan guru / pendidik yang kreatif dan berinovasi tinggi agar menjadikan siswa lebih baik. Bangsa ini akan mendapatkan SDM yang tinggi dan berkualitas kalau dari pendidikan awal sudah ok, itulah tujuan asli dan murni dari para petinggi negeri ini. Siapa yang tidak akan bangga Indonesia memiliki kualitas yang oke dan disegani oleh negara lain !?
Bangsa ini masih sangat banyak membutuhkan guru / pendidik yang kreatif dan berinovasi tinggi agar menjadikan siswa lebih baik. Bangsa ini akan mendapatkan SDM yang tinggi dan berkualitas kalau dari pendidikan awal sudah ok, itulah tujuan asli dan murni dari para petinggi negeri ini. Siapa yang tidak akan bangga Indonesia memiliki kualitas yang oke dan disegani oleh negara lain !?
05 June, 2012
Bisakah Nilai Akademik Menjamin masa Depan ?
Heboh hasil nilai Ujian kelulusan beberapa hari ini yang dengan bangganya Menteri Pendidikan dan kebudayaan kita mengumumkan bahwa tingkat kelulusan meningkat dan hasil rata-rata pu meningkat perlu disikapi dari beberapa sisi. Disatu sisi kemungkinan besar itulah hasil yang kita semua harapkan, di lain sisi apakah pemerataan hasil pendidikan ini sudah terjadi ?
Sungguh hal yang sulit sekali kita telaah tanpa ada ungkapan secara riil data dan kenyataan yang ada. Akankah hasil ini juga akan membuat UNAS / UN menjadi ujung tombak dalam penilaian pendidikan kita ? Seperti judul diatas... Bisakah Nilai Akademik (hasil nilai raport / Ujian nasional) menjamin kehidupan masa depan yang lebih baik ? Kalau dilihat dari sudut pandang bagaimana mereka nantinya masuk di dunia kerja sih mungkin ok... tapi IQ tak menjamin lho..... lebih menjamin kecerdasan EQ.
Lalu apa yang harus kita tanamkan ? Kalau penulis lebih suka menanamkan moral, karena semua ini akan semakin ok dengan moral yang baik. Nilai baik belum bisa menyakinkan 100% membuat hasil masa depan bangsa semakin baik bagi si empunya...
Jadi daripada admin protes... tapi lebih baik memberikan gambaran yang mungkin bisa dipakai oleh para petinggi negeri ini. Penulis / admin mengalami sendiri berbagai kejadian UNAS/ UN yang mungkin sulit diungkapkan, sehingga memberi kesimpulan UNAS / UN bukan patokan. HApuskanlah UN/ UNAS yang bisa mengakibatkan salah pandang... JUJUR akan semakin sulit dicari ... so hanya dengan baiknya moral masa depan akan lebih baik.
Sungguh hal yang sulit sekali kita telaah tanpa ada ungkapan secara riil data dan kenyataan yang ada. Akankah hasil ini juga akan membuat UNAS / UN menjadi ujung tombak dalam penilaian pendidikan kita ? Seperti judul diatas... Bisakah Nilai Akademik (hasil nilai raport / Ujian nasional) menjamin kehidupan masa depan yang lebih baik ? Kalau dilihat dari sudut pandang bagaimana mereka nantinya masuk di dunia kerja sih mungkin ok... tapi IQ tak menjamin lho..... lebih menjamin kecerdasan EQ.
Lalu apa yang harus kita tanamkan ? Kalau penulis lebih suka menanamkan moral, karena semua ini akan semakin ok dengan moral yang baik. Nilai baik belum bisa menyakinkan 100% membuat hasil masa depan bangsa semakin baik bagi si empunya...
Jadi daripada admin protes... tapi lebih baik memberikan gambaran yang mungkin bisa dipakai oleh para petinggi negeri ini. Penulis / admin mengalami sendiri berbagai kejadian UNAS/ UN yang mungkin sulit diungkapkan, sehingga memberi kesimpulan UNAS / UN bukan patokan. HApuskanlah UN/ UNAS yang bisa mengakibatkan salah pandang... JUJUR akan semakin sulit dicari ... so hanya dengan baiknya moral masa depan akan lebih baik.
22 May, 2012
PENDIDIKAN ALA LADY GAGA
heheheh... gak pernah terpikir kalau hari ini admin menulis judul Lady gaga.... Kok dimasukkan di blog Pendidikan seperti ini ? ya yang diambil sisi berita pendidikannya donk... oke langsung saja, beberapa hari ini seluruh media massa baik cetak maupun elektronik bercerita tentang konser Laady Gaga yang fenomenal itu. Bahkan ada yang menyatakan (khususnya para pejabat negri ini) agar dibatalkan karena tidak sesuai dengan moral bangsa kita, disisi lain konser ini dibandingkan dengan para penyanyi dangdut lokal yang pastinya buaanyak sekali yang tampil lebih seronok dan tak pantas.
Berbagai ormas Islam pun mulai menolak kedatangan Lady Gaga, tapi ada juga yang mengijinkan asal penampilannya lebih sopan dan baik. Sang promotor pendatang Lady gaga pun juga mengiyakan kalau Ladi gaga mau menuruit budaya sekitar dia manggung... tapi apapun yang diinginkan mereka bahwa satu hal yang mendidik disini adalah cara memprotes yang baik... merubah prilaku dan tampilan merupakan hal yang seharusnya ditanamkan juga ke peserta didik, maklum moral peserta didik belakangan ini tambah runyam karena banyaknya tampilan vulgar baik di televisi... online bahkan offline.
Moral menjadi sesuatu yang penting untuk dijaga karena hanya dengan itu Bangsa ini bisa menunjukkan yang terbaik. Jadi apapun yang diputuskan Pemerintah tetep saja sudah melalui berbagai pertimbangan.
Moral menjadi sesuatu yang penting untuk dijaga karena hanya dengan itu Bangsa ini bisa menunjukkan yang terbaik. Jadi apapun yang diputuskan Pemerintah tetep saja sudah melalui berbagai pertimbangan.
02 May, 2012
PENDIDIKAN YANG MERAKYAT
KArena hari ini hari Pendidikan nasional maka, pendidik akan mengutip tentang Pendidika. Salah satunya dari Kompas.com. Berikut kutipannya :
Ki Hadjar Dewantara, selain memperkenalkan metode among (ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani) dalam proses pembelajaran, sangat menekankan pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki nasib rakyat.
Pada Kongres I Taman Siswa di Yogyakarta, 20 Oktober 1923, Ki Hadjar Dewantara menyampaikan dua gagasan pokok sebagai bagian dari tujuh asas Taman Siswa, yaitu pendidikan berasas pada kebudayaan sendiri dan pendidikan yang merakyat.
Pendidikan dan pengajaran, menurut Ki Hadjar Dewantara, harus mengena pada rakyat secara luas dan tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari penghidupan rakyat senyatanya. Untuk itu, pendidikan nasional mesti diselenggarakan selaras dengan kodrat bangsa. Hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan dan kedamaian dalam kehidupan bersama dapat diwujudkan.
Ki Hadjar Dewantara sangat kecewa menyaksikan sistem pendidikan dan cara pengajaran yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dalam artikel yang berjudul ”Koerangnja dan Ketjewanja Onderwijs bagi Ra’jat Kita” pada majalah Wasita jilid 1 No 5 edisi Februari 1929, ia mengkritik pelaksanaan pendidikan dan pengajaran pemerintah yang terlampau menekankan aspek keterampilan dan intelektualisme yang berorientasi pada kepentingan Barat.
Pendidikan yang demikian akan menggerus nilai-nilai spiritualitas (budaya) dan tidak akan dapat mengangkat derajat masyarakat pribumi, bahkan semakin menenggelamkannya sebagai budak bangsa lain. Padahal, pendidikan—dalam pandangan Dewantara—seharusnya menjadi upaya pembudayaan serta jalan menuju penghidupan baru yang lebih sejahtera dan mandiri.
Tidak mengenai rakyat
Kini setelah 80-an tahun berlalu, kekecewaan Ki Hadjar Dewantara tidaklah sirna, malah menjalari batin bangsa. Pendidikan dan pengajaran, meskipun dilaksanakan oleh pemerintah kita sendiri, ternyata tidak mampu memperbaiki nasib dan martabat bangsa.
Kenyataannya, kedamaian hidup yang didambakan oleh rakyat berkat kesejahteraan dan perlindungan oleh negara masih jauh panggang dari api. Rakyat mati konyol karena tersiksa sebagai TKI di luar negeri. Geng motor, perampokan di siang bolong, pemerkosaan dalam angkot, gangguan sempadan oleh negara jiran adalah sebagian kecil dari fakta yang menandakan bahwa daya negara dalam memberikan perlindungan terhadap segenap bangsa dan seluruh tumpah darah masih sangat lemah.
Pendidikan dan pengajaran kita, seperti dikhawatirkan oleh Ki Hadjar Dewantara, berjalan tidak berasas pada kebutuhan sendiri sehingga tidak mampu membebaskan diri dari ketergantungannya pada pihak asing. Dewasa ini tujuh dari sembilan bahan pokok serta berbagai sumber daya alam kita diimpor dari dan dikuasai oleh bangsa lain.
Kendati negeri ini disebut agraris—meski dua pertiga wilayahnya berupa laut—dan memiliki sekolah menengah, fakultas/jurusan/program studi, hingga institut teknologi pertanian, pertanian tidak mengalami kemajuan berarti. Perekonomian bangsa Indonesia tidak bersaka guru, baik pada pertanian maupun kelautan (perairan). Sementara 60 persen rakyat masih hidup dari pertanian, yang 80 persen di antaranya miskin.
Kelautan, perikanan, dan studi tentang keduanya baru mendapatkan perhatian pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Itu pun setelah ikan, pasir, dan kekayaan perairan kita banyak dijarah.
Sekarang pendidikan pertanian tergolong bidang yang jenuh, kurang diminati karena sulit mendapat pekerjaan. Konon 8 dari 10 lulusan institut pertanian yang terkenal tidak bekerja pada bidang yang bersangkutan. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar petani menyekolahkan anaknya hingga ke level paling tinggi agar tak menjadi petani seperti orangtuanya. Apakah jadinya kelak negeri ini jika keadaan ini terus berlangsung?
Pendidikan kita sepertinya juga telah gagal membangun budaya bangsa yang merdeka dan berjiwa maju. Pertama, spirit dan pola pikir sebagian besar anak negeri ini masih melanjutkan gaya nenek moyang yang hidup dalam alam yang serba berkecukupan. Sifat serba ingin cepat, mudah, dan santai—meski melanggar aturan—masih menjadi ciri kepribadian bangsa. Kinerja belum menjadi nilai dan budaya yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Sementara itu, tantangan terus berubah, bahkan semakin berat.
Kedua, perilaku irasionalitas masih sangat dominan di tengah masyarakat kita. Alam mitis dan mistis masih bersemayam kuat dan semakin disuburkan melalui berbagai program ”penampakan” televisi. Emosionalisme yang ditandai oleh amuk dan keberingasan, terutama setelah reformasi, semakin menjadi. Kini, bukan hanya pelajar terlibat tawuran, polisi dan TNI juga saling menyerang. Rakyat berdemo, menyabet apa saja; dan anggota DPR pun berkelahi.
Ketiga, alam pikiran bangsa ini belum pulih dari memar keterjajahan sehingga penampilan para pemimpin dan pejabat kita persis perilaku para meneer dan amtenar kolonial: menindas dan korup. Di sisi lain, mentalitas kita menunjukkan sindrom minder yang akut, terutama terhadap Barat, sehingga sering kali mencari berbagai upaya penguatan semu.
Kelas dunia
Di tengah kegalauan bangsa ini, dunia pendidikan kita tiba-tiba seperti mengigau tentang ”kelas dunia” yang tidak jelas maksudnya: world class university ataupun (rintisan) sekolah bertaraf internasional.
Gagasan ”kelas dunia”, disadari ataupun tidak, muncul dari naluri dan kerangka berpikir Darwinisme Sosial yang melihat setiap perkembangan selalu dalam relasi konkurensi yang harus dimenangi.
Kosakata persaingan atau kompetisi kemudian menjadi visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2025. Visi komersial ini menuntun segenap upaya pendidikan kita untuk melihat keluar, mengacu pada dan menggunakan standar-standar (yang dikira) internasional, misalnya negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Orientasi berpikir demikian membuat jalannya pendidikan tidak hanya mengabaikan nilai-nilai dan kebutuhan riil kita atau ”tidak selaras dengan kodrat bangsa” menurut ungkapan Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga menjadi diskriminatif. Jika dahulu anak demang, pesirah, serta keluarga bangsawan dan orang kaya yang dapat menikmati pendidikan yang baik, sekarang pun serupa pula adanya.
Ketidakselarasan dengan kodrat bangsa dan diskriminatif telah membuat para tokoh, seperti Willem Iskandar di Tapanuli Selatan, Mohammad Syafei di Sumatera Barat, dan Ki Hadjar Dewantara di Jawa berjuang agar pengajaran dan pendidikan berlangsung sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan bangsa serta dapat diperoleh rakyat luas. Mereka paham, jika pendidikan yang baik tidak didapatkan oleh sebagian besar rakyat, bangsa ini akan terus melarat.
Dirgahayu pendidikan Indonesia!
Mohammad Abduhzen Direktur Eksekutif Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina; Ketua Litbang PB PGRI
Ki Hadjar Dewantara, selain memperkenalkan metode among (ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani) dalam proses pembelajaran, sangat menekankan pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki nasib rakyat.
Pada Kongres I Taman Siswa di Yogyakarta, 20 Oktober 1923, Ki Hadjar Dewantara menyampaikan dua gagasan pokok sebagai bagian dari tujuh asas Taman Siswa, yaitu pendidikan berasas pada kebudayaan sendiri dan pendidikan yang merakyat.
Pendidikan dan pengajaran, menurut Ki Hadjar Dewantara, harus mengena pada rakyat secara luas dan tidak boleh memisahkan orang-orang terpelajar dari penghidupan rakyat senyatanya. Untuk itu, pendidikan nasional mesti diselenggarakan selaras dengan kodrat bangsa. Hanya dengan cara itu ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan dan kedamaian dalam kehidupan bersama dapat diwujudkan.
Ki Hadjar Dewantara sangat kecewa menyaksikan sistem pendidikan dan cara pengajaran yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dalam artikel yang berjudul ”Koerangnja dan Ketjewanja Onderwijs bagi Ra’jat Kita” pada majalah Wasita jilid 1 No 5 edisi Februari 1929, ia mengkritik pelaksanaan pendidikan dan pengajaran pemerintah yang terlampau menekankan aspek keterampilan dan intelektualisme yang berorientasi pada kepentingan Barat.
Pendidikan yang demikian akan menggerus nilai-nilai spiritualitas (budaya) dan tidak akan dapat mengangkat derajat masyarakat pribumi, bahkan semakin menenggelamkannya sebagai budak bangsa lain. Padahal, pendidikan—dalam pandangan Dewantara—seharusnya menjadi upaya pembudayaan serta jalan menuju penghidupan baru yang lebih sejahtera dan mandiri.
Tidak mengenai rakyat
Kini setelah 80-an tahun berlalu, kekecewaan Ki Hadjar Dewantara tidaklah sirna, malah menjalari batin bangsa. Pendidikan dan pengajaran, meskipun dilaksanakan oleh pemerintah kita sendiri, ternyata tidak mampu memperbaiki nasib dan martabat bangsa.
Kenyataannya, kedamaian hidup yang didambakan oleh rakyat berkat kesejahteraan dan perlindungan oleh negara masih jauh panggang dari api. Rakyat mati konyol karena tersiksa sebagai TKI di luar negeri. Geng motor, perampokan di siang bolong, pemerkosaan dalam angkot, gangguan sempadan oleh negara jiran adalah sebagian kecil dari fakta yang menandakan bahwa daya negara dalam memberikan perlindungan terhadap segenap bangsa dan seluruh tumpah darah masih sangat lemah.
Pendidikan dan pengajaran kita, seperti dikhawatirkan oleh Ki Hadjar Dewantara, berjalan tidak berasas pada kebutuhan sendiri sehingga tidak mampu membebaskan diri dari ketergantungannya pada pihak asing. Dewasa ini tujuh dari sembilan bahan pokok serta berbagai sumber daya alam kita diimpor dari dan dikuasai oleh bangsa lain.
Kendati negeri ini disebut agraris—meski dua pertiga wilayahnya berupa laut—dan memiliki sekolah menengah, fakultas/jurusan/program studi, hingga institut teknologi pertanian, pertanian tidak mengalami kemajuan berarti. Perekonomian bangsa Indonesia tidak bersaka guru, baik pada pertanian maupun kelautan (perairan). Sementara 60 persen rakyat masih hidup dari pertanian, yang 80 persen di antaranya miskin.
Kelautan, perikanan, dan studi tentang keduanya baru mendapatkan perhatian pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Itu pun setelah ikan, pasir, dan kekayaan perairan kita banyak dijarah.
Sekarang pendidikan pertanian tergolong bidang yang jenuh, kurang diminati karena sulit mendapat pekerjaan. Konon 8 dari 10 lulusan institut pertanian yang terkenal tidak bekerja pada bidang yang bersangkutan. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar petani menyekolahkan anaknya hingga ke level paling tinggi agar tak menjadi petani seperti orangtuanya. Apakah jadinya kelak negeri ini jika keadaan ini terus berlangsung?
Pendidikan kita sepertinya juga telah gagal membangun budaya bangsa yang merdeka dan berjiwa maju. Pertama, spirit dan pola pikir sebagian besar anak negeri ini masih melanjutkan gaya nenek moyang yang hidup dalam alam yang serba berkecukupan. Sifat serba ingin cepat, mudah, dan santai—meski melanggar aturan—masih menjadi ciri kepribadian bangsa. Kinerja belum menjadi nilai dan budaya yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Sementara itu, tantangan terus berubah, bahkan semakin berat.
Kedua, perilaku irasionalitas masih sangat dominan di tengah masyarakat kita. Alam mitis dan mistis masih bersemayam kuat dan semakin disuburkan melalui berbagai program ”penampakan” televisi. Emosionalisme yang ditandai oleh amuk dan keberingasan, terutama setelah reformasi, semakin menjadi. Kini, bukan hanya pelajar terlibat tawuran, polisi dan TNI juga saling menyerang. Rakyat berdemo, menyabet apa saja; dan anggota DPR pun berkelahi.
Ketiga, alam pikiran bangsa ini belum pulih dari memar keterjajahan sehingga penampilan para pemimpin dan pejabat kita persis perilaku para meneer dan amtenar kolonial: menindas dan korup. Di sisi lain, mentalitas kita menunjukkan sindrom minder yang akut, terutama terhadap Barat, sehingga sering kali mencari berbagai upaya penguatan semu.
Kelas dunia
Di tengah kegalauan bangsa ini, dunia pendidikan kita tiba-tiba seperti mengigau tentang ”kelas dunia” yang tidak jelas maksudnya: world class university ataupun (rintisan) sekolah bertaraf internasional.
Gagasan ”kelas dunia”, disadari ataupun tidak, muncul dari naluri dan kerangka berpikir Darwinisme Sosial yang melihat setiap perkembangan selalu dalam relasi konkurensi yang harus dimenangi.
Kosakata persaingan atau kompetisi kemudian menjadi visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2025. Visi komersial ini menuntun segenap upaya pendidikan kita untuk melihat keluar, mengacu pada dan menggunakan standar-standar (yang dikira) internasional, misalnya negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Orientasi berpikir demikian membuat jalannya pendidikan tidak hanya mengabaikan nilai-nilai dan kebutuhan riil kita atau ”tidak selaras dengan kodrat bangsa” menurut ungkapan Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga menjadi diskriminatif. Jika dahulu anak demang, pesirah, serta keluarga bangsawan dan orang kaya yang dapat menikmati pendidikan yang baik, sekarang pun serupa pula adanya.
Ketidakselarasan dengan kodrat bangsa dan diskriminatif telah membuat para tokoh, seperti Willem Iskandar di Tapanuli Selatan, Mohammad Syafei di Sumatera Barat, dan Ki Hadjar Dewantara di Jawa berjuang agar pengajaran dan pendidikan berlangsung sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan bangsa serta dapat diperoleh rakyat luas. Mereka paham, jika pendidikan yang baik tidak didapatkan oleh sebagian besar rakyat, bangsa ini akan terus melarat.
Dirgahayu pendidikan Indonesia!
Mohammad Abduhzen Direktur Eksekutif Institute for Education Reform (IER) Universitas Paramadina; Ketua Litbang PB PGRI
Subscribe to:
Posts (Atom)