18 May, 2007

Bila Murid SD Berbahasa Inggris

Jakarta, Jumat (9 Februari 2007)— Hingga akhir 1980-an, sebagian besar siswa sekolah dasar (SD) belum menerima pelajaran bahasa Inggris. Hanya segelintir SD mengenalkan bahasa Inggris kepada siswanya. pada 1990-an, bahasa inggris mulai diajarkan pada murid-murid SD kelas IV ke atas. Di akhir dekade 1990-an, bahasa inggris mulai merambah ke siswa kelas I SD, bahkan murid Taman Kanak-kanak (TK) dan playgrup alias taman bermain. Kini, bukan pemandangan aneh lagi di banyak kota, murid SD kelas I sudah mampu bercakap dalam bahasa Inggris.

Memang, belum semua SD di seluruh kota di Tanah Air sudah menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu pelajaran wajib. Namun, mulai 2007 ini, Direktorat Pembinaan TK dan SD Departemen Pendidikan Nasional akan dirintis bahasa INggris sebagai pelajaran muatan lokal di SD perkotaan. "uji coba segera dilakukan di SD-SD negeri yang berada di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dan Denpasar," Kata Drs Mudjito AK, MSi, Direktur Pembinaan TK-SD Depdiknas.

Meski ujicoba dilakukan di sekolah negeri, namun program itu tidak membedakan sekolah negeri dan swasta. Justru peran sekolah swasta selama ini telah menjadi trendsetter pembelajaran bahasa Inggris di SD.

Program anyar Depdiknas itu juga didukung British Council, sebagai lembaga partner. British Council bukan saja dilibatkan dalam penyusunan strategi efektif pelaksanaan program pembelajaran bahasa Inggris untuk SD. Namun British Council juga memberikan bantuan dana. Salah satu kegiatan pendukung adalah penyelenggaran Simposium Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Sekolah Dasar di Hotel Bumikarsa, Jakarta, pertengahan Februari ini.

Acara dihadiri sekira 40 orang. Di antaranya, para pejabat Depdiknas, kalangan perguruan tinggi, dan para kepala subdin Pendidikan Dasar dari Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, DIY, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur. Juga para kepala SD Bilingual.
SEJAK KURIKULUM 1994
Sebenarnya pembelajaran Bahasa Inggris untuk SD telah ada pada Kurikulum 1994. Namun hasilnya tidak mengembirakan. Pada Kurikulum 2004, pembelajaran bahasa Inggris di SD pun kembali dikembangkan. Hasilnya sami mawon. Hingga muncul Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar Kompetensi dan Kompetensi dasar Bahasa Inggris untuk Sekolah Dasar.

Menurut Drs Mudjito, agar program kali ini berhasil, telah disiapkan metodologi pembelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan. "Selama ini metode pembelajaran melulu berisi penguasaan gramatikal. Juga budaya malu disinyalir sebagai penyebab kesulitan terbesar dalam aplikasi Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Padahal, di Singapura dan Malaysia yang juga punya budaya multikultur ini, warganya tak malu berbahasa Inggris dengan dialek Tiongkok, Melayu dan India yang campur aduk di dalamnya. Berbeda dengan Indonesia yang punya 700-an bahasa daerah. Orang malu mengucapkan bahasa Inggris dengan dialek kedaerahan, misalnya Inggris dialek Sunda, atau Jawa. Sehingga orang menganggap pengucapan yang benar mesti dengan logat Inggris. "Persepsi seperti ini mestinya diubah," katanya.

Mudjito juga berharap, target kurikulum bahasa Inggris sebaiknya tidak membebani siswa. "Sebagai muatan lokal, durasi dua jam pelajaran setiap minggu sudah cukup," kata Mudjito.

Bolehlah siswa SD mulai diwajibkan mempelajari bahasa Inggris. Namun, yang tak kalah penting penguasaan bahasa Indonesia siswa SD di banyak daerah pun masih belum baik. Semoga, semangat mengejar ketertinggalan akan penguasaan bahasa dunia itu, tak membuat bahasa Indonesia dilupakan siswa SD.

3 comments:

durroh said...

saya seorang guru SD di Baturetno-singosari, sebuah daerah di kabupaten malang yang sebenarnya tidak bisa dikatakan tertinggal, tapi terasa tertinggal karena kurang adanya kepedulian terhadap perkembangan disegala bidang. saya tahu di daerah pengajaran bahasa inggris memiliki ragam tantangan yang berbeda, tapi sesungguhnya 2 jam tiap minggu untuk bahasa inggris di SD dirasa kurang, karena yang kita hadapi adalah anak-anak dengan golden age yang sangat mudah menerima pengetahuan:tentunya jika disampaikan secara menyenangkan. apalagi, kita tidak mau tertinggal dan terus-terusan dibodohi oleh orang asing dan kebanyakan ilmu pengetahuan banyak tercetak dalam diktat berbahasa inggris. menurut saya, mumpung masih SD pengetahuan bahasa lebih baik diberi porsi waktu yang lebih banyak, karena bukankah dari bayihal yangpaling pertama kita ingin sekali kuasai adalah bahasa? jadi mumpung belum tua dan otaknya masih dalam masa keemasan, pelajaran bahasa perlu ditanamkan sejak dini.

Anonymous said...

saya guru bahasa inggris (bukan guru kelas) di kecamatan kebakramat karanganyar solo. pemerintah ingin menggalakkan bahasa inggris di sd tetapi tidak diimbangi dengan juklak yg jelas. seharusnya jg disertai dengan pengangkatan guru mapel bahasa inggris sd sehingga akan lebih profesional. juga kesejahteraan guru tersebut jg bs terpenuhi bukan hanya mengandalkan dana dari sekolah. karena banyak di sini dan mungkin didaerah lain yg menggantungkan hidupnya dari mengajar bahasa inggris. untuk teman-teman seperjuangan teruslah berjuang untuk memajukan bahasa inggris dan juga nasib kita. semoga pemerintah mendengarkan jeritan kita. Amiiin..

Mustofa Orang Awam Saking Siberuk said...

Saya seorang guru Bahasa Inggris SD di kabupaten Batang. Bahasa Inggris SD di Kab Batang sudah menjadi mulok Kabupten akan tetapi di sini belum ada kejelasan mengenai kurikulum, buku panduan yang jelas sehingga guru mengajar dengan seadanya..sangat memprihatinkan. Bahasa Inggris SD di sini dipandang sebelah mata